Industri penyimpanan energi global mencapai terobosan bersejarah pada tahun 2025, dengan pemasangan tahunan yang melebihi 100 GW untuk pertama kalinya. Pencapaian penting ini diraih meskipun terjadi penyesuaian kebijakan signifikan di dua pasar penyimpanan energi terbesar, yaitu Tiongkok dan Amerika Serikat.
Tiongkok baru-baru ini menghapus kewajiban bagi proyek energi terbarukan untuk memasang sistem penyimpanan energi, beralih alih ke pendekatan yang lebih didorong oleh pasar. Meskipun transisi ini berpotensi meningkatkan efisiensi pasar dalam jangka panjang, hal ini juga menimbulkan ketidakpastian terkait pendapatan proyek di masa depan.
Sementara itu, Amerika Serikat tetap mempertahankan insentif pajak untuk penerapan sistem penyimpanan energi. Namun, peraturan rantai pasok yang semakin ketat serta pembatasan terkait komponen baterai asal Tiongkok menciptakan tantangan baru bagi pengembang proyek maupun produsen.
Analis industri percaya bahwa dalam laporan "Apa yang Perlu Diperhatikan pada Tahun 2026: Penyimpanan Global", lima tren utama diperkirakan akan memengaruhi industri penyimpanan global sepanjang tahun mendatang.

1. Rantai Pasok Global Terus Berevolusi
Tiongkok masih mendominasi rantai pasok penyimpanan energi global, termasuk pengolahan bahan baku, pembuatan sel baterai, produksi komponen, dan integrasi sistem. Namun, meningkatnya persaingan domestik, kelebihan kapasitas, serta persyaratan konten lokal yang semakin ketat mendorong banyak produsen untuk memperluas operasi ke luar negeri guna menghindari tarif dan mengakses pasar internasional secara lebih efisien.
Wood Mackenzie mencatat bahwa perusahaan Tiongkok sedang mempercepat investasi di kawasan seperti Asia Tenggara, Asia Selatan, Eropa, dan Timur Tengah. Strategi mereka berfokus pada penguatan kehadiran di pasar global, meskipun margin laba tetap terbatas dalam jangka pendek.
Pada saat yang sama, kendala pasokan diperkirakan akan tetap menjadi masalah hingga paruh pertama tahun 2026. Produk baterai bersertifikat dari pemasok terkemuka menghadapi permintaan yang sangat kuat, yang terus memberikan tekanan pada pasar. Analis industri memperkirakan harga akan secara bertahap stabil selama paruh kedua tahun ini.
2. Penyimpanan Pembentuk Jaringan Menjadi Arus Utama
Sistem penyimpanan baterai pembentuk jaringan semakin menjadi kebutuhan, bukan lagi teknologi pilihan di banyak pasar tenaga listrik. Sistem-sistem ini membantu menstabilkan tegangan dan frekuensi, yang kian penting seiring pensiunnya pembangkit listrik batu bara dan gas konvensional.
Australia merupakan salah satu contohnya, di mana sekitar 75% kapasitas pembangkitan berbasis batu bara diperkirakan akan keluar dari pasar pada tahun 2035. Seiring meningkatnya penetrasi energi terbarukan, penyimpanan pembentuk jaringan akan memainkan peran kritis dalam menjaga keandalan sistem.
Perkembangan teknologi juga menurunkan biaya. Sebelumnya, sistem pembentuk jaringan (grid-forming) dapat menelan biaya 10% hingga 15% lebih tinggi dibandingkan solusi penyimpanan konvensional. Saat ini, banyak produsen mengintegrasikan kemampuan ini ke dalam produk standar dengan penambahan biaya yang minimal.
3. Teknologi Baterai Alternatif Semakin Mendapatkan Momentum
Meskipun baterai lithium-ion tetap menjadi teknologi penyimpanan dominan secara global, solusi alternatif berkembang pesat. Baterai sodium-ion, baterai alir (flow batteries), serta teknologi besi-udara (iron-air) menarik minat yang semakin besar seiring meningkatnya kelayakan komersialnya untuk aplikasi tertentu.
Wood Mackenzie menyoroti meningkatnya investasi dalam teknologi non-lithium di pasar utama, termasuk Tiongkok dan Australia. Teknologi-teknologi ini khususnya menarik untuk aplikasi penyimpanan energi berdurasi panjang.
Di Eropa, kebijakan pemerintah yang mendukung membantu mempercepat adopsi. Negara-negara seperti Inggris Raya dan Italia sedang memperkenalkan mekanisme "batas atas dan batas bawah" yang dirancang untuk meningkatkan keamanan investasi serta membuat proyek penyimpanan jangka panjang lebih menarik secara finansial.
4. Pusat Data Mempercepat Permintaan Baterai
Pertumbuhan pesat kecerdasan buatan dan pusat data berskala besar menciptakan pendorong permintaan baru yang signifikan bagi sistem penyimpanan baterai. Banyak operator pusat data memasang penyimpanan baterai di lokasi untuk mengatasi keterlambatan sambungan ke jaringan listrik dan keterbatasan pasokan daya.
Beban komputasi terkait kecerdasan buatan dapat berfluktuasi secara dramatis dalam hitungan milidetik, sehingga memerlukan sistem energi yang sangat fleksibel. Penyimpanan baterai semakin banyak digunakan untuk mengelola perubahan beban cepat ini secara efektif.
Meskipun turbin gas tetap menjadi pilihan utama untuk pembangkit cadangan di lokasi, sistem baterai kini telah menjadi pilihan teknologi kedua paling umum dalam saluran pengembangan pusat data baru.
5. Proyek Terbarukan Hibrida Berkembang Pesat
Para pengembang semakin sering menggabungkan penyimpanan baterai dengan proyek tenaga surya dan angin. Sistem hibrida ini membantu mengurangi pembuangannya energi terbarukan (curtailment), yang terjadi ketika pembangkitan listrik melebihi kapasitas jaringan untuk menyerapnya.
Di negara-negara seperti Australia dan India, lebih dari separuh proyek penyimpanan yang diumumkan selama 2025 mencakup konfigurasi terintegrasi tenaga surya, tenaga angin, atau konfigurasi terbarukan hibrida.
Data pasar menunjukkan bahwa sistem hibrida dan sistem bersama lokasi (co-located) mewakili sekitar 30% penambahan kapasitas penyimpanan Australia tahun lalu. Pada banyak proyek baru tenaga surya-dan-penyimpanan, kapasitas baterai kini melebihi ukuran sistem pembangkitan tenaga surya yang dipasangkan. Pendekatan berkapasitas berlebih (oversized) ini memungkinkan pemilik proyek mengakses aliran pendapatan tambahan, termasuk arbitrase jaringan dan layanan pelengkap (ancillary services).
Eropa sedang mengalami tren serupa. Di beberapa wilayah, pasar listrik mencatat lebih dari 500 jam harga listrik negatif per tahun, sehingga menurunkan profitabilitas proyek energi terbarukan mandiri. Akibatnya, para pengembang semakin beralih ke perjanjian pembelian tenaga listrik hibrida (hybrid power purchase agreements/PPA) guna meningkatkan stabilitas pendapatan.
Prospek Pasar Regional
Ke depan, penurunan berkelanjutan dalam biaya sistem penyimpanan energi, inovasi teknologi yang terus berlangsung, serta perluasan skenario aplikasi baru diperkirakan akan mendukung pertumbuhan pasar yang kuat selama satu dekade ke depan.
Tiongkok diperkirakan akan tetap menjadi pasar terbesar di dunia untuk pertumbuhan kapasitas penyimpanan energi. Sebaliknya, pasar Amerika Serikat mungkin mengalami pertumbuhan yang lebih lambat pada tahun 2026 dan 2027 akibat penyesuaian tarif serta restrukturisasi rantai pasok yang sedang berlangsung.
Eropa tetap menjadi salah satu wilayah dengan pertumbuhan tercepat secara global. Pemasangan sistem penyimpanan energi di Eropa melonjak sebesar 160% pada tahun 2025. Jerman terus memimpin dalam sistem penyimpanan terdistribusi dan residensial, sementara Britania Raya mendominasi segmen penyimpanan berskala utilitas.
Amerika Latin juga muncul sebagai pasar pertumbuhan yang menjanjikan. Brasil berencana meluncurkan lelang nasional untuk sistem penyimpanan pada awal 2026, sedangkan Chili sedang memperbarui regulasi pasar guna memberikan kompensasi yang lebih baik kepada proyek-proyek penyimpanan atas layanan pendukung jaringan listrik.
Transisi energi global terus berakselerasi. Penyimpanan energi kini tidak lagi dipandang hanya sebagai solusi cadangan—melainkan semakin menjadi teknologi inti untuk menjamin stabilitas, fleksibilitas, dan keandalan jaringan listrik di masa depan.